Langsung ke konten utama

Contoh Proposal Metodologi Penelitian Kualitatif

NILAI-NILAI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM TRADISI “GREBEG ROWO” DI DESA ROWO KECAMATAN MIRIT KABUPATEN KEBUMEN



A.Latar Belakang
Sebelum Islam datang ke Nusantara, agama Hindu dan Budha sudah lama ada. Terutamanya ditanah            Jawa, terkenal kental dengan kepercayaan Animisme maupun Dinamisme. Namun, sampai saat ini masyarakat indonesia masih melakukan beberapa cara yang dilakukan oleh nenek moyang terdahulu. Bahkan sembilan wali atau biasa disebut dengan “Walisongo”, menyebarkan agama Islam dengan pendekatan melalui budaya. Budaya sangat kental pada masyarakat pada waktu itu sehingga para wali pun menyebarkan agama islam dengan memasukan nilai-nilai islam ke dalam setiap budaya, yang isinya yaitu mengajarkan kepada masyarakat setempat bahwa Tuhan ada satu yaitu Allah dan tidak boleh menyembah Tuhan selain-Nya. 
         Kebiasaan-kebiasaan mengandung nilai di dalamnya yang dilakukan oleh sekelompok manusia secara turun temurun dan menjadi kesepakatan bersama yang akan dilakukan sesuai dengan nenek moyang terdahulu, ini bisa diartikan sebagai budaya. Di Indonesia sendiri budaya dengan agama tidak dapat di pisahkan, karena dalam proses penyebarannya mengunakan budaya seperti tradisi wayang yang dibawa oleh Sunan Kalijaga. Wayang bukan hanya sebagai sebuah seni yang dapat menghibur masyarakat pada watu itu, tapi dengan wayang Sunan Kalijaga secara tidak langsung berdakwah dengan menyisipkan ajaran-ajaran Islam. Jadi tidak bisa dipungkiri bahwa budaya sangat mempengaruhi bagi para wali dalam mensyiarkan agama Islam,
Menurut Koentjaraningrat (1984:5), “kebudayaan itu mempunyai paling sedikit tiga wujud, ialah :
1.Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya.
2.Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat.
3 Wujud kebudayaan sebagi benda-benda hasil karya manusia
      Jika kita lihat arti budaya menurut Koentjaraningrat bisa diartikan yaitu pertama, bersifat abstraksi tidak dapat diketahui dengan cara diraba maupun difoto. Karena ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma – norma, peraturan dan sebagainya berada didalam pikiran manusia. Kedua, terlihat bahwa perilaku manusia yang sudah terpola atau terkonsep dan menjadi rutinan dalam masyarakat. Ketiga, segala sesuatu yang diciptakan oleh manusia sebagai karya seni. 
dilansir dari kompasiana, menurut buku karya Prof. Dr. Koentjaraningrat yang berjudul, "Aneka Ragam Kebudayaan dan Masyarakat". Faktor-faktor yang mempengaruhi adanya beragam budaya seperti: 
1.Tempat tinggal
Dimana seseorang itu tinggal, mempengaruhi suatu kebudayaan yang mereka jalani. Seperti orang yang hidup di pesisir pantai akan bekerja sebagai nelayan.
2.Pengaruh dari luar
Pengaruh dari luar tidak terbatas. Misalnya bagi daerah Jawa Tengah, lalu terpengaruh oleh jawa timur. Bagi Jawa Tengah, Jawa Timur termasuk pengaruh dari luar.
3.Iklim
Iklim juga mempengaruhi kebudayaan yang dijalani oleh masyarakat. Hawa dan suhu lingkungan juga menentukan apa yang kita lakukan.
4.Turunan nenek moyang
Turunan dari nenek moyang bisa dikatakan sebagai tradisi yang diturunkan kepada setiap anggota keluarganya. 
5.Mobiliasi
Perpindahan dari daerah satu ke daerah yang lain.
6.Jarak dan lingkungan  
Ketika terdapat jarak dan kondisi lingkungan berbeda maka akan terjadi perbedaan budaya.
7.kepercayaan. 
         Karena indonesia dahulu kental dengan tradisi Hindu dan Budha maka ritual-ritual pun berbeda, namun dalam Islam diberi ajaran-ajaran islam dalam proses melakukan proses tradisi. Maka dari itu budaya Hindu dan Budha tidak serta merta ditolak. 
Kebudayaan sangat erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat apalagi agama Islam. Dengan kebudayaan, masyarakat dapat belajar dan berperilaku sesuai dengan  apa yang diajarkan nenek moyang terdahulu melalui adat maupun tradisi. Hal ini bisa dikatakan bahwa setiap kebudayaan mengandung nilai-nilai pendidikan. Adanya pendidikan, kebudayaan dapat terus diwariskan serta dilestarikan oleh generasi selanjutnya. 
     Dilihat dari sudut pandang individu, pendidikan merupakan usaha untuk menimbang dan menghubungkan potensi individu. Adapun dari sudut pandang kemasyarakatan, pendidikan merupakan usaha pewarisan nilai-nilai budaya dari generasi tua kepada generasi muda, agar nilai-nilai budaya tersebut tetap terpelihara (Hasan Langgulung:1998). 
Dalam tradisi Grebeg Rowo atau biasa dikatan dengan sedekah laut  memiliki nilai pendidikan agama islam seperti: sebagai ajang silaturahmi dan untuk memberikan rasa syukur untuk apa yang mereka terima dan dapatkan dari laut selama setahun. Juru kunci Grebeg Rowo atau biasa di panggil dengan sesepuh untuk melakukan prosesi ritual namun di dampingi dengan pemuka agama dengan membacakan doa serta tahlil. Dalam surat Al-Luqman ayat 12 dijelaskan 

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ ۚ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

Artinya: “Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. 
      Berkaitan dengan uraian tersebut di atas maka timbul suatu keinginan dari peneliti untuk mengadakan penelitian guna mengetahui maksud, tujuan, dan nilai-nilai pendidikan dari upacara tradisi Grebeg Rowo di Mirit Kebumen yang telah mentradisi di kalangan masyarakat Jawa pada masyarakat Desa Rowo di Mirit Kebumen. Dimana masyarakat yang berdomisili di Desa Rowo di Mirit Kebumen dan sekitarnya beranggapan bahwa pelaksanaan dari kegiatan tradisi grebeg tersebut mengandung nilai-nilai pendidikan agama Islam. Oleh karena itu dalam penelitian ini, peneliti mengambil judul skripsi “NILAI-NILAI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM TRADISI “GREBEG ROWO” DI DESA ROWO KECAMATAN MIRIT KABUPATEN KEBUMEN”

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, peneliti dapat merangkum ke dalam beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
1.Apa saja nilai-nilai pendidikan yang ada pada tradisi Grebeg Rowo di Mirit Kebumen?
2.Bagaimana implementasi kehidupan keagamaan masyarakat mengenai tradisi Grebeg Rowo di           Kecamatan Mirit Kabupaten Kebumen?

C.Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, penelitian bertujuan untuk:
1.Untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan agama Islam yang ada pada tradisi Grebeg Rowo di Mirit     Kebumen.
2.Untuk mengetahui implementasi kehidupan keagamaan masyarakat Rowo di Kecamatan Mirit             Kabupaten Kebumen.

D.Kajian Teori
1.Nilai-Nilai Pendidikan Agama
a.Pengertian Nilai 
     Nilai merupakan suatu hal yang melekat pada suatu hal yang lain yang menjadi bagian dari identitas sesuatu tersebut. Bentuk material dan abstrak di alam ini tidak bisa lepas dari nilai. Nilai memberikan definisi, identitas, dan indikasi dari setiap hal konkret ataupun abstrak.
Pengertian nilai menurut Sidi Ghazalba sebagaimana di kutip oleh Chabib Toha, nilai adalah suatu yang bersifat abstrak, ideal. Nilai bukan benda konkrit bukan fakta dan tidak hanya persoalan benar adalah yang menuntut pembuktian empirik, melainkan soal penghayatan yang dikehendaki, disenangi maupun tidak disenangi. 
        Dari pengertian ini menunjukkan bahwa hubungan antara subjek dan objek memiliki arti penting dalam kehidupan. Pendidikan Islam merupakan pendidikan universal yang diperuntukkan untuk seluruh umat manusia. Pendidikan Islam memiliki nilai-nilai luhur yang agung dan mampu menentukan posisi dan fungsi di dalam masyarakat Indonesia.
Menurut Chabib Thoha dalam bukunya Kapita Selekta Pendidikan Islam, Penanaman nilai adalah suatu tindakan, perilaku atau proses menanamkan suatu tipe kepercayaan yang berada dalam ruang lingkup sistem kepercayaan dimana seseorang bertindak atau menghindari suatu tindakan, atau mengenai sesuatu yang pantas atau tidak pantas dikerjakan. 
      Sedangkan menurut Wahyudi dalam bukunya Program Pendidikan Untuk Anak Usia Dini di Prasekolah Islam, Penerapan pendidikan nilai Islam pada pendidikan usia dini harus melibatkan seluruh elemen yang menunjang iklim sekolah, agar terjadi interaksi positif antara anak didik dengan nilai-nilai yang akan diinternalisasikan. Guru sebagai suri teladan (role model) dalam kegiatan belajar mengajar harus berkomunikasi dua arah dengan anak berdasarkan keikhlasannya. 
Sedangkan Syahminan Zaini mendefinisikan pendidikan agama Islam sebagai pengembangan fitrah manusia atas dasar ajaran-ajaran Islam, sehingga diharapkan manusia dapat hidup secara sempurna lahir dan batin. 
b.Jenis- jenis nilai pendidikan agama Islam
Nilai pendidikan agama Islam yang harus ditanamkan pada anak usia dini menurut pandangan Islam. Nilai-nilai menurut Pandangan Islam yang harus ditanamkan pada pendidikan anak usia dini adalah:
1)Nilai Keimanan
a)Pengertian Iman
Iman secara umum dapat dipahami sebagai suatu keyakinan yang dibenarkan di dalam hati, diikrarkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan amal perbuatan yang didasari niat yang tulus dan ikhlas dan selalu mengikuti petunjuk Allah SWT serta sunah nabi Muhammad SAW.  Dalam Al-Qur‟an terdapat sejumlah ayat yang menunjukkan kata-kata iman, diantaranya terdapat pada firman Allah surat al-Anfal ayat 2:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ .

Artinya: “Orang-orang Mukmin hanyalah mereka yang apabila disebut nama Allah gentar hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat- Nya, dia menambah iman mereka dan kepada tuhan mereka dan kepada Tuhan mereka berserah diri.”
Dari tafsir diatas dapat dijelaskan mereka yang mantap imannya adalah mereka yang membuktikan pengakuan iman mereka dengan perbuatan sehigga, antara lain, apabila disebut nama Allah sekadar mendengar nama itu dari siapapun gentar hati mereka karena mereka sadar akan kekuasaan dan keagungan-Nya. Dan apabila dibacakan, oleh siapapun, kepada mereka ayat-ayat- Nya dia yakni ayat-ayat itu menambah iman mereka karena memang mereka telah mempercayainya sebelum dibacakan, sehingga setiap kali mendengarnya, kembali terbuka luas wawasan mereka dan terpancar lebih banyak cahaya ke hati mereka.
 Kepercayaan itu menghasilkan rasa tenang menghadapi segala sesuatu sehingga hasilnya kepada Tuhan mereka  berserah digetarkan rasa yang menyentuh kalbu seorang Mukmin ketika  diingatkan tentang Allah, perintah atau larangan-Nya. Ketika itu jiwanya dipenuhi oleh keindahan dan ke-Maha besaran Allah, sehingga bangkit dalam dirinya rasa takut kepada-Nya, tergambar keagungan serta tergambar juga pelanggaran dan dosanya. Semua itu mendorongnya untuk beramal dan taat.

b)Nilai Keimanan menurut sufi yaitu:
1.Hakikat iman menurut Nur Cholis Madjid Hakikat iman menurut Nur Cholis Madjid mendasarkan seluruh gerakannya (pemikiran dan sikapnya) kepada iman kepada Allah, karena iman itulah yang melahirkan tindakan untuk beribadah, beramal shaleh dan berakhlak mulia. 
2.Najib Khalid Al-Amir, pembinaan keimanan merupakan pembinaan yang pertama kali harus ditanamkan dalam jiwa dan pikiran anak sehingga pengembangan fitrah bagi manusia yang mempunyai sifat dan kecenderungan untuk mengakui dan mempercayai adanya Tuhan. 
Sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai keimanan merupakan nilai pertama yang yang ditanamkan pada keluarga karena keluarna tempat pertama menanamkan nilai-nilai agama. 
Dilihat dari sumbernya nilai dapat diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu: 
1.Nilai Ilahiyah  (nash) yaitu yang lahir dari keyakinan (belief), berupa petunjuk dari supranatural atau Tuhan. Di bagi atas tiga hal:
a.Nilai Keimanan (Tauhid/Akidah)
b.Nilai Ubudiyah 
c.Nilai Muamalah 
2.Nilai Insaniyah (Produk budaya yakni nilai yang lahir dari kebudayaan masyarakat baik secara individu maupun kelompok) yang terbagi menjadi tiga: 
a.Nilai Etika 
b.Nilai Sosial 
c.Nilai Estetika 
Islam memandang adanya nilai mutlak dan nilai intrinsik yang berfungsi sebagai pusat dan muara semua nilai. Nilai tersebut adalah tauhid (uluhiyah dan rububiyah) yang merupakan tujuan semua aktivitas hidup muslim. Semua nilai-nilai lain yang termasuk amal shaleh dalam Islam termasuk nilai instrumental yang berfungsi sebagai alat dan prasarat untuk meraih nilai tauhid. Dalam praktek kehidupan nilai-nilai instrumental itulah yang banyak dihadapi oleh manusia. 

2.  Tradisi Grebeg Rowo
a.Pengertian Tradisi
Tradisi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah adat kebiasaan masyarakat yang turun temurun dari nenek moyang, mulai zaman dulu hingga sekarang yang masih dilakukan oleh masyarakat. Adat istiadat atau tradisi adalah aturan (perbuatan) yang lazim dituruti atau dilakukan oleh masyarakat sejak dahulu kala. Tradisi juga berarti tata kelakuan yang kekal dan turun temurun dari generasi satu ke generasi yang lain sebagai warisan sehingga kuat integritasnya dengan pola perilaku masyarakat.  
Pada kehidupan masyarakat Jawa sendiri tradisi di anggap sebagai peninggalan yang sakral dan memiliki nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, karenanya sampai sekarang tradisi masih dilestarikan dan dipertahankan oleh sebagian besar masyarakat Jawa. Selain sebagai perantara bagi masyarakat untuk saling bergotong-royong tradisi juga digunakan untuk mengungkapkan rasa syukur terhadap Tuhan yang telah memberikan rizki dan keselamatan bagi alam dan seisinya. Menurut Van Peursen tradisi bukanlah sesuatu yang tidak bisa diubah, karena pada tradisi justru ada aspek yang bisa diperpadukan dengan berbagai perbuatan atau tindakan manusia dan diangkat dalam keseluruhannya. 
b.Pengertian Grebeg
    Grebeg merupakan salah satu upacara yang hingga saat ini rutin dilaksanakan oleh Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Kata Grebeg, memiliki arti diiringi atau diantar oleh orang banyak. Hal ini merujuk pada Gunungan yang diiringi oleh para prajurit dan Abdi Dalem dalam perjalanannya dari keraton menuju Masjid Gedhe. Dalam pendapat lain dikatakan bahwa Garebeg atau yang umumnya disebut “Grebeg” berasal dari kata “gumrebeg”, mengacu kepada deru angin atau keramaian yang ditimbulkan pada saat berlangsungnya upacara tersebut.
    Besar kemungkinan bahwa Upacara Garebeg berasal dari tradisi Jawa kuno yang disebut Rajawedha. Pada upacara tersebut raja akan memberikan sedekah demi terwujudnya kedamaian dan kemakmuran di wilayah kerajaan yang dipimpinnya. Tradisi sedekah raja ini awalnya sempat terhenti ketika Islam masuk di Kerajaan Demak. Akibatnya masyarakat menjadi resah dan meninggalkan kerajaan yang baru berdiri tersebut. Melihat gejala demikian, Walisongo yang menjadi penasehat Raja Demak kemudian mengusulkan agar tradisi sedekah atau kurban oleh raja tersebut dihidupkan kembali. Akan tetapi, kali ini upacara yang berasal dari tradisi Hindu tersebut dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menjadi sarana penyebaran agama Islam.
        Sejak periode Demak, upacara sedekah raja yang kemudian dijadikan sarana syiar Islam tersebut dikenal dengan nama Sekaten. Ada yang mengatakan bahwa Sekaten berasal dari kata “syahadatain” atau dua kalimat syahadat yang merupakan kesaksian untuk memeluk agama Islam. Pendapat lain mengatakan bahwa Sekaten berasal dari kata “sekati” yang merujuk kepada dua perangkat gamelan keraton yang dibunyikan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad. Tidak berhenti sebatas untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad, Kerajaan Demak juga menggelar upacara serupa untuk menandai berdirinya Masjid Demak yang bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha. Sejak saat itu tradisi sedekah raja ini berlangsung tiga kali setahun, termasuk untuk memperingati Hari Raya Idul Fitri. 
c.Rowo
       Rowo merupakan nama desa yang yang letaknya paling timur di Kecamatan Mirit dan berbatasan dengan Kabupaten Purworejo dan Samudera atau lebih dikenal dengan laut selatan dengan ombak yang besar, apalagi ketika sedang pasang. Di pantai ini. lingkungannya masih alami, terjaga, dan cukup bersih. Gunduk pasir atau gunungan pasir di pinggir pantai juga terjaga dengan baik, bahkan saat ini sudah ditumbuhi oleh ribuan vegetasi cemara. Lahan gunduk pasir di Pantai Rowo ini dijadikan lahan penelitian oleh mahasiswa UGM sejak beberapa tahun lalu. 
       Beruntungnya, hingga saat ini masih terpelihara dengan sangat baik. Cukup unik untuk dijadikan spot foto, karena kita bisa mengambil background di dalam hutan cemara, namun berlatar belakang pantai. Selain itu, di sepanjang hutan cemara ini terdapat laguna, atau masyarakat lokal menyebutnya “segoro anakan”. Salah satu adat unik pada masyarakat lokalnya adalah adat sedekah laut serta tradisi Grebeg Rowo yang dilaksanakan setelah hari Raya Idhul Fitri ke 7 atau 8 Syawal. 
Tradisi Grebeg Rowo ini bisa dikatakan sebagai ajang silaturahmi sekaligus wisata. adat ini bahkan sudah menjadi acara tahunan yang dianggap sebagai rangkaian adat bagi masyarakat Kecamatan Mirit dan sekitarnya. Beralih ke adat, di pantai Rowo ini juga dilaksanakan acara adat tahunan yang digelar oleh masyarakat yang bermata pencaharian nelayan. acara sedekah laut ini dilakukan pada hari Selasa atau Jumat Kliwon penanggalan Jawa di awal bulan Asyura. “Tujuan diadakannya sedekah laut ini adalah untuk memberikan rasa syukur untuk apa yang mereka terima dan dapatkan dari laut selama setahun. Selain itu, sedekah laut ini juga ditujukan untuk memohon keselamatan selama para nelayan melaut” Prosesi upacara adat sedekah laut ini diawali dengan pelarungan sesajen. 
      Berbagai kelengkapan sesajen yang disiapkan antar lain adalah kepala kambing yang sudah dibungkus dengan kain putih (mori), bunga setaman, kelengkapan ageman (pakaian) dan alat kecantikan wanita, tujuh rupa buah, tujuh rupa pisang, serta tumpeng. Pemilihan kelengkapan sesajen tersebut dilakukan atas dasar keyakinan bahwa benda-benda itu adalah benda kesukaan Ratu Kidul. Masyarakat lokal sangat percaya bahwa Ratu Kidul ada sebagai perantara Tuhan untuk menjaga laut kidul (laut selatan) beserta isinya. 
       Pelarungan ageman atau pakaian biasanya lengkap, mulai dari ageman batik, tusuk konde, dan juga alat kecantikan untuk bersolek. Sosok Ratu Kidul ini digambarkan begitu anggun seperti putri raja atau putri keraton pada umumnya. Proses pelarungan sesajen ini dilakukan oleh para keluarga nelayan dan dilakukan di tengah laut, para keluarga nelayan melakukan arak-arakan sesajen dari desa menuju sungai Wawar, yaitu sungai yang menjadi akses untuk menuju ke laut. Setelah itu puluhan perahu nelayan akan beriringan menuju laut untuk melarung sesajen tersebut. 

E.Kajian Pustaka
      Dalam proses penelitian perlunya referensi sebagai bahan perbandingan dengan karya ilmiah yang lain terhadap kelebihan dan kekurangan dari skripsi. Kajian pustaka juga memiliki pengaruh  besar untuk mendapatkan informasi yang ada mengenai teori yang berkaitan dengan judul yang digunakan untuk memperoleh landasan teori ilmiah. Agar tidak terjadi  kesamaan dalam penulisan karya ilmiah, maka penulis sertakan beberapa judul skripsi yang ada hubungannya dengan penulis, sebagai acuan penulisan skripsi ini , antara lain judul skripsinya adalah:
1.Penelitian yang dilakukan oleh Erma Nahdliyatul (11110187) yang berjudul “Futihah Nilai-Nilai Pendidikan dalam tradisi Grebeg Maulud Dusun Bentisan Desa Sukomarto.” Memberi kesimpulan bahwa Tradisi grebeg Bentisan berawal dari adanya seorang mubaligh yang menyebarkan agama islam didesa Bentisan yaitu Simbah Tuan Sayyid Abdurrahman, beliau mengajarkan Islam dan memberikan kebiasaan/tradisi-tradisi kebaikan kepada masyarakat bentisan dari situ kemudian diadakanlah tradisi grebeg ini untuk mengabadikan dan melestarikan budaya baik beliau. 
2.Penelitian yang dilakukan oleh Tiwi Mirawati  (12510046) yang berjudul “ Nilai-Nilai Islam dalam Tradisi Grebeg Mulud dan Implikasinya terhadap Masyarakat Keraton Yogyakarta.” Memberi kesimpulan bahwa upacara grebeg mulud merupakan sebuah kebudayaan yang masih menggunakan cara animisme dan dinamisme, akan tetapi dilihat dari segi Islam bahwa upacara tersebut merupakan nilai syukur seorang sultan atas nikmat Allah atas rizki yang diberikannya kepada masyarakat Yogyakarta, diwujudkan dengan menggunakan simbol-simbol. Selain itu terdapat nilai syukur sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Nilai akidah sabagai bentuk keyakinan-keyakinan dengan sesuatu yang ghoib (Tuhan, makhluk halus, roh dll). Ada nilai dakwah berupa syiar Islam. 
3.Penelitian yang dilakukan oleh Herliyan Baya Wati (092160562) yang berjudul “Pengaruh Nilai-Nilai dan Pendidikan Upacara Bagung Sedekah Bumi terhadap Masyarakat Desa Bagung Kecamatan Prembun Kabupaten Kebumen.” Memberi kesimpulan bahwa Nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam upacara Sedekah Bumi di Desa Bagung Sumberhadi terdiri atas tiga nilai, yaitu: nilai pendidikan ketuhanan, nilai pendidikan sosial atau kemasyarakatan, nilai pendidikan moral. Nilai pendidikan ketuhanan dalam upacara Sedekah Bumi membuat masyarakat Desa Bagung Sumberhadi lebih percaya adanya Tuhan. Pengaruh upacara Sedekah Bumi terhadap masyarakat di Desa Bagung Sumberhadi terdapat dua sifat, yaitu sifat positif dan sifat negatif. 
4.Penelitian yang dilakukan oleh Santoso (11106108) yang berjudul “Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam Dalam Tradisi Grebeg Maulud di Kraton Surakarta.” Memberi kesimpulan bahwa pada awalnya sekaten atau grebeg merupakan upacara berwujud pertunjukan Jawa-Islam.Sedangkan pada mulanya sekaten tau grebeg diperkenalkan oleh anggota wali songo,yaitu sunan Kalijaga yang hidup pada zaman kerajaan Islam Demak (abad ke-xv).Upacara grebeg sudahada sejak abad ke-xii di jaman kerajaan Majapahit.Grebeg Pada awalnya adalah sebagai media dakwah yang dilakukan oleh para wali songo terutama sunan Kalijaga.Ketika itu orang yang ingin menghadiri pertunjukan kesenian di haruskan membaca syahadatain yang kemudian menjadi istilah sekaten seperti sekarng ini terdapat nilai-nilai pendidikan Islam dalam Gending, setiap gunungan, gunungan darat, barang-barang yang biasa dijual pada saat perayaan Sekaten.  
5.Penelitian yang dilakukan oleh Zomi Satriyadi (1431010068) yang berjudul “ “NILAI-NILAI ETIKA DALAM TRADISI NGUMBAI LAWOK MASYARAKAT LAMPUNG”  (Studi di Desa Balai Kencana Kecamatan Krui Selatan Kabupaten Pesisir Barat), (Lampung: UIN Intan Raden Lampung), Ngumbai lawok adalah suatu bentuk upacara adat yang di rayakan atau dilaksanakan oleh masyarakat desa balai kencana sebagai bentuk ucapan rasa syukur dan permohonan kepada tuhan yang maha Esa, agar terhindar dari malapetaka, bencana, yang dapat terjadi sewaktuwaktu juga sebagai permohonan agar mendapat rizki melimpah disaat mencari ikan di laut. nilai-nilai Etika yang termuat dalam rangkaian kegiatan upacara tersebut, yang baik untuk di pelajari antara lain nilai solidaritas atau gotong royong, musyawarah, silaturrahmi, etis, estatika, cultural, dan religius yang terungkap dalam ekspresi simbolis dari upacara yang disajikan melalui bentuk tarian, atraksi, doa-doa dan ritus-ritus lainya. 
6.Penelitian yang dilakukan oleh Devi Yantika Eka Saputri (210314334) yang berjudul “Nilai-Nilai Religius Dalam Tradisi Upacara Adat Tataken Gunung Lima (Studi Kasus di Desa Mantren, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan).” Nilai-nilai religius dalam upacara adat Tetaken Gunung Lima, yaitu sedekah bumi atas bentuk rasa syukur kepada Allah Swt. karena telah memberikan rezeki yang melimpah kepada masyarakat sekitar Gunung Lima dan juga hubungan kepada alam dalam bentuk melestarikan dan menjaga keadaan alam, agar selalu terjaga. Sehingga penghasilan bumi semakin melimbah di Desa Mantren. Proses pelaksanaan tradisi upacara adat Tetaken Gunung Lima dibagi menjadi dua yaitu proses awal dengan tahapan: sebo, cantrik, semedi dan thontongan. proses pelaksanaan yakni: pelaksanaan awal: hasil bumi dan peserta, pelaksanaan inti: mandhap, siraman, padhadaran, kirab, srahsrahan, ujuban, doa, legen. 

F.Metode Penelitian
1.Metode pengumpulan data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif : 
a.Sumber Data 
Sumber data yang akan digunakan dalam penelitian ini meliputi sumber primer dan sumber sekunder. 
1)Sumber primer adalah sumber-sumber yang memberikan data secara langsung dari tangan pertama untuk tujuan yang khusus. Dalam hal ini data diperoleh dari wawancara terhadap masyarakat sekitar pesisir di Mirit Kebumen.
2)Sumber sekunder adala data yang lebih dulu dikumpulkan dan diperoleh oleh orang diluar diri penyelidik sendiri. Dalam hal ini data diperoleh dari dokumentasi buku, angket, serta foto dokumentasi.
b.Metode Pengumpulan Data
1)Observasi
Metode ini dilakukan oleh seorang peneliti saat terjun langsung dalam suatu penelitian yang dilakukan secara sengaja, sistematis, mengenai pelaksanaan dengan pengamatan saat acara Grebeg Rowo di Mirit Kebumen dimulai.
2)Wawancara
Metode ini dilakukan oleh seorang peneliti saat terjun langsung dengan membuat daftar pertanyaan sebagai patokan. Wawancara merupakan tanya jawab antara narasumber dengan pewawancara untuk menggali suatu informasi. Objek yang menjadi tujuan penelitian ialah masyarakat di sekitar pantai, juru kunci grebeg rowo, pemuka agama setempat, dan para sesepuh, kepala desa, dan para pengunjung.
3)Dokumentasi
Metode ini dilakukan oleh seorang peneliti dengan cara pengamatan melalui dokumen yang ada tanpa terjun langsung. Menurut Burhan Bungin (2008) bahan dokumen itu berbeda secara gradual dengan literatur, dimana literatur merupakan bahan-bahan yang diterbitkan sedangkan dokumenter adalah informasi yang disimpan  atau didokumentasikan sebagai bahan dokumenter. Mengenai bahan-bahan dokumen tersebut, Sartono Kartodirdjo (dikutip oleh Bungin, 2008) menyebutkan berbagai bahan seperti; otobiografi, surat pribadi, catatan harian, momorial, kliping, dokumen pemerintah dan swasta, cerita roman / rakyat, foto, tape, mikrofilm, disc, compact disk, data di server / flashdisk, data yang tersimpan di web site, dan lainnya. Data yang akan dicari berupa tulisan dari web Kecamatan Mirit Kebumen dan vidio dari youtube dengan nama akun yaitu Eko Yulianto dan TV Net Jateng.
2.Analisis Data 
Analisis data merupakan upaya yang dilakukan oleh seorang peneliti dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasi data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola dan menentukan pola yang akan digunakan.  Untuk menganalisis data yang sudah terkumpul, penulis menggunakan metode analisis sebagai berikut: 
a.Analisis Deskriptif 
Metode Deskriptif yaitu menguraikan penelitian dan menggambarkan sifat suatu keadaan yang sementara berjalan pada saat penelitian dilakukan, dan memeriksa sebab-sebab dari suatu gejala tertentu. Dalam analisis data ini penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif dimana dalam melakukan penelitian, peneliti akan mencoba mendiskripsikan fakta dari semua hasil penelitian di lapangan, menganalisa dan menginterpretasikannya sehingga penelitian ini dapat menjelaskan maksud dan tujuan dari peneliti. 
b.Interpretasi
Interpretasi merupakan upaya penting untuk memahami kebenaran. Dengan memahami dan mendalami data yang sudah terkumpul kemudian mengungkap arti dan inti yang dimaksud dengan Grebeg Rowo. Dengan menggunakan metode interpretasi ini bermaksud untuk menerjemahkan nilai-nilai pendidikan Islam apa saja yang terdapat didalam Grebeg Rowo di Mirit Kebumen, sehingga bisa diketahui implementasinya pada masyarakat sekitar pesisir Rowo di Mirit Kebumen.

G.Kesimpulan
1.Nilai-nilai pendidikan Agama Islam yang ada pada adat Grebeg Rowo di Mirit Kebumen yaitu berupa pembacaan doa kepada Allah SWT atas rezeki yang telah dilimpahkan. Karena masyarakat daerah pesisir laut Rowo di Mirit Kebumen bermata pencaharian dengan mengikuti grebeg Rowo atau sedekah laut ikut berdoa bersama atas limpahan rezkinya.
2.Implementasi kehidupan keagamaan masyarakat mengenai Tradisi Grebeg Rowo di Mirit Kebumen beranggap baik dan menjunjung tinggi budaya setempat. Tidak pernah kontra mengenai pemahaman agamanya yang mereka anut dengan tradisi terdahulu.

H.DAFTAR PUSTAKA
Achmadi. 2005. Ideologi Pendidikan Islam Paradikma Humanisme Teosentris. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Al-Amir, Najib Khalid. 2002. Min Asalibi Ar-Rasul fi at-Tarbiyah, terj. M. Iqbal Haetami. Mendidik Cara Nabi SAW. Bandung: Pustaka Hidayah.
Futihah, Erma Nahdliyatul. 2014. SKRIPSI: NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM TRADISI “GREBEG” MAULUD DUSUN BENTISAN DESA SUKOMARTO. Salatiga: STAIN SALATIGA
Herusatoto, Budiono. 2012. Mitologi Jawa. Jakarta: Oncor Semesta Ilmu. 
Isna, Mansur. 2001. Dirkursus Pendidikan Islam. Yogyakarta: Global Pustaka Utama
Mahfud, Rois. 2011. Al-Islam Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Erlangga.
Mirawati, Tiwi. 2016 Skripsi: Nilai-Nilai Islam dalam Tradisi Grebeg Mulud dan Implikasinya terhadap Masyarakat Keraton Yogyakarta. Yogyakarta: UIN sunan Kalijaga.
Moeliono, Anton M. Dkk. 1988. Kamus Besar Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.  
Moleong, Lexy J. 1989.  Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Muri’ah, Siti. 2011. Nilai-Nilai Pendidikan Islam dan Wanita Karir. Semarang: RASAIL Media Group. 
Santoso. 2010. Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam Dalam Tradisi Grebeg Maulud di Kraton Surakarta, Salatiga: STAIN Salatiga.
Saputri, Devi Yantika Eka. 2018.  Nilai-Nilai Religius Dalam Tradisi Upacara Adat Tataken Gunung Lima (Studi Kasus di Desa Mantren, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan). Ponorogp: IAIN Ponorogo.
Satriyadi, Zomi. 2018. NILAI-NILAI ETIKA DALAM TRADISI NGUMBAI LAWOK MASYARAKAT LAMPUNG (Studi di Desa Balai Kencana Kecamatan Krui Selatan Kabupaten Pesisir Barat). Lampung: UIN Intan Raden Lampung.
Sevilla,  Consuelo G. dkk. 1993. Pengantar Metode Penelitian, Terjemahan. Alimuddin Tuwu, UI-press Jakarta: UI-Press.
Shihab, M. Quraish. 2006. Menabur Pesan Ilahi. Jakarta: Lentera Hati.
Tebba, Sudirman. 2004. Orientasi Sufistik Cak Nur. Jakarta: KPP.
Wahyudi, dkk. 2005. Program Pendidikan Untuk Anak Usia Dini di Prasekolah Islam. Jakarta: Gramedia Widya Sarana Indonesia.
Wati, Herliyan Baya. 2013. Pengaruh Nilai-Nilai dan Pendidikan Upacara Bagung Sedekah Bumi terhadap Masyarakat Desa Bagung Kecamatan Prembun Kabupaten Kebumen. Purworejo: UMP Purworejo.
https://dalamislam.com/landasan-agama/al-quran/ayat-ayat-al-quran-tentang-syukur , diunduh pada hari senin tanggal 01 junli 2019.
https://kec-mirit.kebumenkab.go.id/index.php/web/read/recent/sedekah-laut-rowo , di unggah pada 17 Oktober 2017 dan di unduh Senin 01 Juli 2019.
https://www.kratonjogja.id/hari-besar-islam/8/garebeg , diunduh pada hari selasa tanggal 02 Juli 2019 dan diunggah pada hari Senin, tanggal 17 April 2017.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Format Proposal Penelitian Kuantitatif FITK 2019 UINWS

Format Proposal Penelitian Kuantitatif Judul : JUDUL DITULIS HURUF KAPITAL CETAK TEBAL TEGAK (Anak udul                                  Ditulis Huruf Besar Kecil Cetak Tebal Tegak) Penulis : Ditulis dengan Huruf Besar Kecil Cetak Tebal Tegak NIM : Angka ditulis cetak tidak tebal tegak Program Studi : Nama ditulis cetak tidak tebal   A. Latar Belakang Masalah (4-6 hlm) B. Rumusan Masalah (maksimal 1 hlm) C. Tujuan dan Manfaat Penelitian (1,5 -2,5 hlm) D. Kaian Teori (3-20 hlm) E. Kajian Pustaka relevan (4-5 hlm) F. Rumusan Hipotesis (maksimal 1 hlm) G. Metode Penelitian (2,5 -14 hlm) H. Kepustakaan                                                 ...

Sirah Nabawiyah

Soal dan Jawaban 1. Nabi Muhammad saw pernah mengembalakan kambing a.Ceritakan  kapan dan bagaimana nabi saw mengembalakan kambing! Jawaban ;       Nabi Muhammad saw tidak dimanjakan oleh Abu Thalib. Pada masa remajanya pun, sebagaimana dahulu di pedesaan bersama Halimah, beliau menggembala kambing denga nimbalan upah secukupnya.  Satu ketika beliau menyatakan bahwa para nabi menggembalakan kambing. Beliau ditanya “ Apakah engkau juga demikian?” Beliau menjawab: “Ya aku pernah menggembalakannya, milik penduduk Mekkah dengan imbalan beberapa qirath” (HR. Bukhari).   Pekerjaan menggembala ternak merupakan pekerjaan yang umum dilakukan oleh para nabi dan rasul, seperti Musa, Daud, dan Isa alaihimussalam. Menurut catatan sejarah, di masa kecil Muhammad SAW pernah menggembala ternak penduduk Makkah.Beliau mengatakan, “semua nabi pernah menggembala ternak.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana dengan Anda ya Rasulullah?” Beliau me...